Resensi Buku

Menyelami Dunia Anak-Anak Lewat Cerita

Resensi Buku Alona Ingin Menjadi Serangga, RIAU POS, Minggu 14 Agust 2016

Resensor: Al-Mahfud

Ulasan Buku Alona, RIAU POS, Minggu 14 Agust 16

Harta, Tahta dan Surga di Mata Lelaki

2

*Resensi dimuat Harian Singgalang 23 Agustus 2015.

*Diresensi oleh M Rasyid Ridho

Berjumpa Lelaki Dari Sorga

lelaki1

*Resensi dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat, Minggu, 14 Juni 2015.

*Diresensi oleh Budi Wahyono, Guru SMK Negeri 7 Semarang.

Bagaimana Caramu Merawat Kenangan?

 

1

*Resensi dimuat Harian Umum Sumbar, Sabtu 11 Januari 2015 diresensi oleh Umar Affiq.

Kuasa Perempuan atau Kesedihan?

Judul Buku: Satu Hari yang Ingin Kuingat

Penulis: Yetti A.KA

Penerbit: UNSApress

Cetakan: I, 2014

Tebal: V+109 Halaman

ISBN: 978-602-711176-1-7

 

r1

*Resensi dimuat di Jawa Pos, Minggu 18 Januari 2015 diresensi oleh Andy Moe.

Ketika ‘Dunia Lain’ & Kehidupan Sosial Sama-Sama Menyeramkan

Ketika ‘Dunia Lain’ & Kehidupan Sosial Sama-Sama Menyeramkan

BUMI KUNTILANAK FULL

Judul Buku         : Bumi Kuntilanak

Penulis                : Denny Herdy & Sandza

Penerbit              : UNSApress

Cetakan              : Pertama, Agustus 2014

ISBN                  : 978-602-71176-0-0

Beberapa karya dari dua cerpenis asal tanah Sunda ini sudah pernah bertengger di media koran. Karenanya, karya mereka sudah tidak diragukan secara kualitas, baik isi maupun tata bahasanya. Begitupun dalam buku yang tergolong fiksi ‘bukan horror biasa’ ini.

Uniknya, nuansa horror yang mereka bangun tak hanya menegakkan bulu kuduk, melainkan juga menyentil kisi-kisi hati. Denny Herdy lebih menguar ‘dunia lain’, lengkap dengan kepiawaiannya memanipulasi mitos menjadi suatu cerita yang lebih kekinian, mengalir dan dramatis. Sementara Sandza cenderung menggali keseraman sosial yang ada di sekitar, disempurnakan oleh sindiran, diksi memikat dan pesan halusnya.

Beberapa cerpen karya Denny Herdy yang menarik adalah Lunatic, Dunia Setelah Senja dan Kuntilanak. Lunatic adalah jelmaan dari hasil fantasi yang liar, menceritakan seseorang bernama Luna yang dihukum karena kesalahannya; berwajah jelita. Keelokannya itu mampu menyihir semua mata dan hati yang memandangnya, termasuk kakak-kakaknya sendiri (halaman 1-11). Kemudian Dunia Setelah Senja, begitu gamblang menceritakan kepercayaan masyarakat Sunda soal adanya ‘kehidupan’ pasca matahari condong ke barat. Tak lupa, sang penulis mencelurkan suatu cerita memilukan di dalamnya dan sentuhan modernitas di akhirnya (halaman 33-42). Sementara Kuntilanak, isinya menguak persekongkolan yang dilakukan oleh manusia dan ‘makhluk lain’, untuk kemudian menghakimi seseorang yang tidak disukai, tak peduli dia benar-benar jahat atau baik sekalipun (halaman 43-57).

Sedangkan beberapa cerpen karya Sandza yang merenggut perhatian yaitu Membunuh Angka, Hikayat Guru Semut dan Ritual Hari Buruh. Membunuh Angka adalah cerita pahit tentang seorang anak perempuan yang mesti menanggung beban fisik dan psikologis kompleks nan mengerikan, akibat ulah bejat ayah tirinya sampai dia enggan memperjuangkan janinnya (halaman 79-86). Lalu Hikayat Guru Semut, yang skemanya cerdas – sebab merupakan hasil rajutan dari dongeng dan realitas – menceritakan nasib seorang guru honorer ‘panjang umur’ yang pengabdiannya tulus dan ‘sampai’ pada murid, namun tak kunjung merasakan apresiasi yang laik (halaman 87-93). Kemudian Ritual Hari Buruh, menceritakan perjuangan para buruh untuk mencicipi manisnya perasan waktu dan keringat mereka. Menariknya, cerita ini juga membenturkan kenyataan bahwa ada profesi yang lebih memilukan namun tak memiliki ‘momen’ untuk mengadu, yaitu guru honorer. Kisahnya tersusun apik lewat konflik sepasang suami isteri, di mana isterinya bekerja sebagai buruh dan suaminya guru honorer merangkap ojek (halaman 115-120).

Adapun kualitas buku, UNSA Press sebagai penerbit mayor baru sudah sukses memberi kesan pertama yang memuaskan. Visualisasi isinya sederhana, tak ada elemen-elemen penunjang. Namun jika melihat tema buku kumcer ini, pemilihan kesederhanaan itu menjadi suatu keputusan yang tepat.

Desain cover buku juga tak kalah sederhana. Hanya ada tiga warna utama; hitam, merah dan sedikit polesan putih. Background hitam menegaskan aura suram dan menakutkan, sekaligus menjadikan buku ini tampil elegan. Warna merah pada sketsa perempuan berambut terurai dengan gambar bumi di kepalanya menyiratkan kesan bergairah, kuat tapi juga keras dan cemas. Sedangkan pemilihan putih sebagai warna tulisan membuat tampilan minimalis covernya tergenapi. Cocok.

Hampir tak ada cacat dalam buku kumcer ini, selain segelintir kosa-kata Tanah Pasundan yang tidak terjabarkan. Sehingga penikmati kumcer ini bisa jadi menerawang atau mesti mencari makna sebenarnya. Namun jika pembaca paham betul konteks ceritanya, hal ini tidak jadi masalah besar.

Secuil kelemahan buku tidak lantas meruntuhkan gundukan keunggulannya. Buah karya ini patut dibaca sebagai referensi cerpen sastra yang memesona. [*]

*Dee Ann Rose

*Sumber: http://rosediana.com/2014/11/16/ketika-dunia-lain-kehidupan-sosial-sama-sama-menyeramkan/